Dekranasda Sleman Lakukan Studi Tiru ke Kota Pekalongan, Belajar Strategi Penguatan Batik dan UMKM

Dekranasda Sleman Lakukan Studi Tiru ke Kota Pekalongan, Belajar Strategi Penguatan Batik dan UMKM
Kota Pekalongan – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman melakukan kunjungan studi tiru ke Dekranasda Kota Pekalongan. Kegiatan yang berlangsung di Museum Batik Kota Pekalongan ini bertujuan untuk memperdalam wawasan mengenai pengembangan produk unggulan, khususnya batik dan kerajinan, serta strategi pemberdayaan UMKM. Selasa. (25/11/2025).
Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menyampaikan bahwa batik merupakan identitas utama Kota Pekalongan yang telah mendunia.
“Batik tidak hanya sekadar lukisan di atas kain, tetapi mengandung nilai sejarah dan seni yang tinggi. Identitas lokal berupa batik dan kerajinan adalah modal budaya sekaligus ekonomi yang menjadi strategi utama daya saing IKM,” ujarnya.
Pekalongan sendiri dikenal sebagai Kota Batik, dengan 1.377 pengrajin batik aktif. Kota ini juga telah meraih pengakuan internasional, di antaranya Batik ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, dan Museum Batik Pekalongan mendapat penghargaan Best Practices and Batik Conservation serta Kota Pekalongan masuk dalam jejaring Creative Cities Network UNESCO.
Selain batik dengan motif khas seperti jlamprang, jawa hokokai, buketan, dan kaumanan, Kota Pekalongan juga memiliki beragam kerajinan seperti sulam, perca, tenun, hingga olahan pelepah pisang. Produk kuliner seperti megono, olahan kedelai, dan produk perikanan turut menjadi unggulan daerah.
Dekranasda Kota Pekalongan aktif memfasilitasi IKM melalui berbagai program, antara lain showroom yang representatif dan ruang live shopping, pelatihan digital marketing, kemasan, ecoprint, serta industri ramah lingkungan, promosi lewat pameran lokal maupun nasional dan pendampingan, monitoring, dan evaluasi UMKM.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas, daya saing, serta kesejahteraan UMKM agar mampu menembus pasar global.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Parmilah, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Dekranasda Kota Pekalongan.
“Kami memilih Pekalongan karena kota ini telah dikenal sebagai pusat batik nasional bahkan internasional. Kami ingin belajar lebih jauh tentang proses produksi, strategi penjualan, pemanfaatan teknologi, serta dukungan Dekranasda terhadap pengembangan produk unggulan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Sleman juga memiliki potensi kerajinan yang sangat berkualitas dan bernilai jual tinggi tetapi belum semuanya terakomodir dekranasda.
“Harapan kami, hasil studi tiru ini dapat dimodifikasi sehingga UMKM di Kabupaten Sleman bisa terakomodir melalui Dekranasda dan naik kelas,” katanya.
Usai sesi diskusi, rombongan Dekranasda Sleman diajak berkeliling Museum Batik Pekalongan serta berbelanja produk batik dan kerajinan UMKM di showroom Dekranasda Kota Pekalongan.
(Tim Media Bagian Umum Setda Kota Pekalongan)
Kota Pekalongan – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman melakukan kunjungan studi tiru ke Dekranasda Kota Pekalongan. Kegiatan yang berlangsung di Museum Batik Kota Pekalongan ini bertujuan untuk memperdalam wawasan mengenai pengembangan produk unggulan, khususnya batik dan kerajinan, serta strategi pemberdayaan UMKM. Selasa. (25/11/2025).
Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menyampaikan bahwa batik merupakan identitas utama Kota Pekalongan yang telah mendunia.
“Batik tidak hanya sekadar lukisan di atas kain, tetapi mengandung nilai sejarah dan seni yang tinggi. Identitas lokal berupa batik dan kerajinan adalah modal budaya sekaligus ekonomi yang menjadi strategi utama daya saing IKM,” ujarnya.
Pekalongan sendiri dikenal sebagai Kota Batik, dengan 1.377 pengrajin batik aktif. Kota ini juga telah meraih pengakuan internasional, di antaranya Batik ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, dan Museum Batik Pekalongan mendapat penghargaan Best Practices and Batik Conservation serta Kota Pekalongan masuk dalam jejaring Creative Cities Network UNESCO.
Selain batik dengan motif khas seperti jlamprang, jawa hokokai, buketan, dan kaumanan, Kota Pekalongan juga memiliki beragam kerajinan seperti sulam, perca, tenun, hingga olahan pelepah pisang. Produk kuliner seperti megono, olahan kedelai, dan produk perikanan turut menjadi unggulan daerah.
Dekranasda Kota Pekalongan aktif memfasilitasi IKM melalui berbagai program, antara lain showroom yang representatif dan ruang live shopping, pelatihan digital marketing, kemasan, ecoprint, serta industri ramah lingkungan, promosi lewat pameran lokal maupun nasional dan pendampingan, monitoring, dan evaluasi UMKM.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas, daya saing, serta kesejahteraan UMKM agar mampu menembus pasar global.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Parmilah, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Dekranasda Kota Pekalongan.
“Kami memilih Pekalongan karena kota ini telah dikenal sebagai pusat batik nasional bahkan internasional. Kami ingin belajar lebih jauh tentang proses produksi, strategi penjualan, pemanfaatan teknologi, serta dukungan Dekranasda terhadap pengembangan produk unggulan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Sleman juga memiliki potensi kerajinan yang sangat berkualitas dan bernilai jual tinggi tetapi belum semuanya terakomodir dekranasda.
“Harapan kami, hasil studi tiru ini dapat dimodifikasi sehingga UMKM di Kabupaten Sleman bisa terakomodir melalui Dekranasda dan naik kelas,” katanya.
Usai sesi diskusi, rombongan Dekranasda Sleman diajak berkeliling Museum Batik Pekalongan serta berbelanja produk batik dan kerajinan UMKM di showroom Dekranasda Kota Pekalongan.
(Tim Media Bagian Umum Setda Kota Pekalongan)
PRINT +
DOWNLOAD PDF